Buku-buku itu masih rapi di rak, sebagian bahkan masih ada plastiknya. Dibeli dengan niat yang sangat baik: yang bergambar bagus, yang katanya dianjurkan untuk seusianya, yang dibeli sepulang dari pameran buku dengan harapan minggu ini akan berbeda. Setiap kali disodorkan, anak membuka dua halaman, lalu meletakkannya lagi.
Sementara itu ia bisa duduk lama sekali menonton video, dan hafal seluruh nama tokoh dalam permainan yang sedang ia sukai. Perbandingan ini yang membuat banyak Bunda diam-diam khawatir, karena semua orang bilang membaca itu penting, dan anak ini kelihatannya sama sekali tidak tertarik. Muncul pula rasa bersalah: mungkin dulu kurang sering dibacakan cerita.
Sebelum membeli buku lagi, ada satu hal yang jauh lebih menentukan. Anak yang tidak mau membaca sebenarnya terbagi menjadi dua kelompok yang kelihatannya sama persis dari luar, padahal sebabnya berbeda jauh, dan jalan keluarnya juga berbeda. Salah menebak kelompoknya membuat semua usaha kita meleset, sebaik apa pun niatnya.
Dua Anak yang Terlihat Sama, Padahal Masalahnya Berbeda Jauh
Kelompok pertama adalah anak yang membacanya masih berat. Ia sudah bisa mengeja dan sudah bisa membaca kalimat, tetapi tenaganya habis di jalan. Setiap kata masih perlu diurai satu per satu, sehingga ketika sampai di ujung kalimat, ia sudah lupa awalnya tentang apa. Membaca baginya terasa seperti mendaki, dan tidak ada cerita yang tersisa untuk dinikmati.
Kelompok kedua adalah anak yang sebenarnya sudah lancar. Ia bisa membaca petunjuk permainan dengan cepat, bisa membaca pesan di HP, bisa membaca judul video tanpa kesulitan. Tetapi buku tetap tidak menarik baginya. Untuk anak ini, persoalannya bukan kemampuan, melainkan bahwa selama ini buku belum pernah benar-benar memberinya sesuatu yang ia inginkan.
Membedakan keduanya sebenarnya mudah, dan bisa dilakukan malam ini juga. Minta ia membaca satu halaman dengan suara keras, lalu perhatikan bukan kecepatannya melainkan usahanya. Bila banyak kata yang tersendat, bila ia sering mengulang dari awal kalimat, atau bila setelah selesai ia tidak bisa menceritakan isi halaman tersebut, kemungkinan besar ia ada di kelompok pertama.
Sebaliknya, bila ia membaca dengan lancar dan bisa menceritakan isinya, tetapi tetap menolak melanjutkan, ia ada di kelompok kedua. Uji sederhana ini menghemat berbulan-bulan usaha yang salah sasaran, dan mencegah kita membeli tumpukan buku baru untuk masalah yang sama sekali bukan tentang buku.
Bila Membacanya Masih Berat: Kurangi Bebannya, Jangan Tambah Jamnya
Untuk anak kelompok pertama, menambah waktu membaca justru memperburuk keadaan. Setiap sesi yang melelahkan menambah bukti baginya bahwa membaca itu tidak menyenangkan, dan penolakannya semakin kuat. Yang perlu dikurangi adalah bebannya, bukan durasinya.
Cara paling menolong adalah membaca bergantian. Anda membaca satu paragraf dengan suara yang hidup, lalu ia membaca satu kalimat saja, lalu Anda lagi. Dengan begini cerita tetap mengalir dan ia tetap berlatih, tanpa harus memikul seluruh halaman sendirian. Banyak anak yang tadinya menolak buku menjadi mau ketika tahu ia tidak akan ditinggal mendaki sendirian.
Biarkan pula ia membaca ulang buku yang sudah dikuasai, bahkan yang menurut kita terlalu mudah untuk usianya. Mengulang bacaan yang mudah adalah cara paling alami untuk membuat membaca terasa ringan, dan kelancaran justru tumbuh dari situ. Melarangnya membaca buku yang dianggap kekanak-kanakan sering menghentikan satu-satunya bacaan yang ia nikmati.
Yang juga penting adalah menahan diri untuk tidak langsung membetulkan setiap kata yang salah. Koreksi yang datang terlalu cepat memutus jalannya cerita dan menambah rasa gagal. Beri jeda beberapa detik, dan bila ia tetap tersendat, sebutkan katanya dengan biasa saja lalu lanjutkan. Sasaran malam itu adalah menyelesaikan cerita dengan perasaan baik, bukan menyelesaikan cerita tanpa satu pun kesalahan.
- Baca bergantian: Anda satu paragraf, ia satu kalimat.
- Biarkan ia mengulang buku mudah yang sudah dikuasai.
- Jangan membetulkan tiap kata yang salah; beri jeda dulu.
- Pilih buku dengan tulisan besar dan halaman yang lapang.
- Berhenti sebelum ia lelah, bukan setelah ia mengeluh.
Bila Sudah Lancar tapi Tetap Menolak: Periksa Bukunya
Untuk anak kelompok kedua, hampir selalu ada jarak antara buku yang kita anggap bagus dan buku yang benar-benar ia inginkan. Kita cenderung memilih yang mendidik, yang sopan, dan yang bergizi. Anak memilih dengan ukuran lain sama sekali: apakah ini lucu, apakah ini seru, dan apakah ini tentang hal yang sedang saya sukai.
Karena itu, biarkan ia yang memilih, bahkan ketika pilihannya membuat kita mengernyit. Komik dihitung membaca. Buku tentang binatang yang isinya sebagian besar gambar dihitung membaca. Buku resep, buku tentang sepak bola, buku berisi fakta aneh, semuanya dihitung. Anak yang menemukan satu buku yang benar-benar ia nikmati sering berubah lebih cepat daripada anak yang disodori dua puluh buku pilihan orang tuanya.
Cara paling mudah menemukannya adalah mengikuti apa yang sudah ia sukai di luar buku. Kalau ia menyukai permainan tertentu, carikan buku tentang dunia itu. Kalau ia hafal semua jenis dinosaurus, mulailah dari sana. Buku pertama yang berhasil bukan buku terbaik menurut daftar mana pun, melainkan buku yang paling dekat dengan hal yang sudah ada di kepalanya.
Perhatikan juga panjangnya. Anak yang belum terbiasa membaca sering menyerah bukan karena isinya, melainkan karena tebalnya membuat ia yakin tidak akan sanggup menyelesaikan. Buku tipis yang selesai dibaca memberi pengalaman berhasil, dan pengalaman berhasil itulah bahan bakar untuk buku berikutnya.
- Biarkan ia memilih sendiri, termasuk komik dan buku bergambar.
- Mulai dari hal yang sudah ia sukai di luar buku.
- Pilih yang tipis dulu, supaya ia mengalami rasa menyelesaikan.
- Sediakan buku di tempat yang mudah terlihat, bukan di rak yang tinggi.
- Bawa ia ikut memilih, jangan dibelikan sebagai kejutan.
Kebiasaan Niat Baik yang Membuat Buku Terasa Seperti Tugas
Ada beberapa kebiasaan yang lahir dari niat sangat baik tetapi diam-diam membuat buku kehilangan daya tariknya. Yang paling sering adalah bertanya setelah membaca. Kita ingin tahu ia paham, jadi kita bertanya tokohnya siapa dan pesannya apa. Bagi anak, ini mengubah membaca menjadi ujian kecil, dan tidak ada orang yang bersemangat menghadapi ujian setiap malam.
Yang kedua adalah menjadikan membaca sebagai hukuman atau syarat. Kalimat seperti baca dulu sepuluh halaman baru boleh main terdengar wajar, tetapi menempatkan buku sebagai penghalang antara anak dan hal yang ia inginkan. Setelah beberapa bulan, buku akan terasa seperti pintu yang harus dilewati, bukan tempat yang menyenangkan.
Yang ketiga adalah berhenti membacakan cerita ketika anak sudah bisa membaca sendiri. Ini terasa masuk akal, tetapi sebenarnya menghilangkan bagian paling menyenangkan dari membaca justru pada saat ia paling membutuhkannya. Anak SD yang masih dibacakan buku sering tetap menikmatinya, dan dari situ ia belajar bahwa cerita itu menyenangkan, sesuatu yang tidak bisa diajarkan lewat perintah.
Yang keempat, dan paling sunyi pengaruhnya, adalah rumah yang tidak pernah memperlihatkan orang dewasa membaca. Anak menyerap kebiasaan dari yang ia lihat, bukan dari yang ia dengar. Sepuluh menit membaca apa pun di dekatnya, bahkan bacaan Anda sendiri, mengajarkan lebih banyak daripada seluruh nasihat tentang pentingnya membaca.
- Jangan menguji isi bacaan setelah selesai membaca.
- Jangan menjadikan membaca sebagai syarat sebelum bermain.
- Teruskan membacakan cerita meski ia sudah bisa membaca sendiri.
- Perlihatkan diri Anda membaca, meski hanya sepuluh menit.
Mulai dari Ukuran yang Terlalu Kecil untuk Ditolak
Kebiasaan membaca tumbuh dari pengulangan yang ringan, bukan dari sesi panjang yang jarang. Karena itu mulailah dari ukuran yang begitu kecil sampai anak merasa tidak ada alasan untuk menolak. Sepuluh menit menjelang tidur sudah lebih dari cukup, dan justru lebih berhasil daripada rencana satu jam yang bertahan tiga hari.
Waktu menjelang tidur bekerja paling baik untuk banyak keluarga karena dua alasan. Pertama, tidak ada kegiatan lain yang bersaing pada jam itu. Kedua, banyak anak bersedia membaca demi menunda waktu tidur, dan tidak apa-apa memanfaatkan hal itu. Sepakati saja bahwa lampu mati pukul sekian, dan sepuluh menit terakhir adalah waktu buku.
Jaga agar sesi ini tetap menyenangkan dan bebas dari penilaian. Tidak ada koreksi, tidak ada pertanyaan pemahaman, dan boleh berhenti di tengah bila ia sudah mengantuk. Bila ia ingin buku yang sama setiap malam selama dua minggu, turuti saja. Pengulangan adalah cara anak menguasai sesuatu, dan kebosanan Anda bukan ukuran kemajuannya.
Terakhir, hitung juga mendengarkan sebagai membaca pada tahap awal. Buku yang dibacakan, cerita yang didengarkan, atau bacaan yang ada suaranya sama-sama membangun kosakata dan kecintaan pada cerita. Bagi anak yang membacanya masih berat, mendengarkan sering menjadi jembatan yang membuat ia mau mencoba membaca sendiri kemudian.
Kapan Kesulitan Membaca Perlu Diperiksa
Sebagian besar anak membaik ketika bebannya dikurangi dan bukunya dibiarkan ia pilih sendiri. Tetapi ada tanda yang sebaiknya tidak sekadar ditunggu. Bila anak sudah kelas dua atau tiga tetapi masih sangat berat membaca kata-kata sederhana, sering tertukar huruf yang mirip, sering menebak kata dari huruf pertamanya saja, atau kelelahan luar biasa hanya untuk satu paragraf, sebaiknya dibicarakan dengan guru dan tenaga profesional.
Periksa pula hal yang paling sederhana lebih dulu, yaitu penglihatan. Anak yang penglihatannya kabur akan menghindari buku tanpa pernah mengeluh, karena ia mengira semua orang melihat seperti itu. Pemeriksaan mata sering menjelaskan penolakan yang sudah berbulan-bulan dianggap sebagai malas.
Bila ternyata ada kesulitan belajar tertentu, mengetahuinya lebih awal adalah kabar baik, bukan kabar buruk. Anak-anak ini biasanya bekerja jauh lebih keras daripada temannya untuk hasil yang sama, dan yang paling melelahkan bagi mereka bukan bacaannya, melainkan bertahun-tahun disangka tidak berusaha. Pendampingan yang tepat mengubah banyak hal, dan semakin dini semakin ringan.
Yang Bisa Dicoba Malam Ini Juga
- Minta ia membaca satu halaman dengan suara keras, untuk tahu ia kelompok yang mana.
- Malam ini baca bergantian: Anda satu paragraf, ia satu kalimat saja.
- Berhenti bertanya isi bacaannya setelah selesai, mulai malam ini.
- Tanyakan hal apa yang sedang paling ia sukai, lalu carikan bacaan tentang itu.
- Sepakati sepuluh menit terakhir sebelum lampu mati sebagai waktu buku.
Bab pertamanya bisa Anda dengarkan gratis
Kalau tulisan ini terasa menggambarkan rumah Anda, bab pertama buku “Anak Betah Belajar Tanpa Disuruh” membahasnya lebih dalam, tentang menumbuhkan anak yang mau belajar sendiri tanpa diomeli tiap hari. Bab itu bisa dibaca, atau didengarkan seperti dongeng sambil menyetrika dan menemani anak tidur. Gratis, tanpa mendaftar, tanpa memasukkan email.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Kenapa anak tidak suka membaca buku padahal sudah bisa membaca?
Biasanya karena buku yang tersedia belum pernah memberikan sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Orang tua memilih dengan ukuran mendidik, sementara anak memilih dengan ukuran seru dan dekat dengan minatnya. Biarkan ia memilih sendiri, termasuk komik dan buku bergambar, karena semuanya tetap dihitung membaca.
Apakah komik dihitung membaca?
Ya. Komik tetap melatih kosakata, alur cerita, dan kebiasaan menyelesaikan bacaan. Bagi anak yang belum terbiasa, komik sering menjadi buku pertama yang benar-benar ia nikmati sampai habis, dan pengalaman menyelesaikan itulah yang membuka jalan ke bacaan berikutnya.
Perlukah tetap membacakan buku untuk anak yang sudah bisa membaca sendiri?
Sangat dianjurkan. Membacakan cerita menjaga bagian yang paling menyenangkan dari membaca, dan anak SD umumnya masih menikmatinya. Bagi anak yang membacanya masih berat, dibacakan juga menjadi jembatan sampai ia cukup lancar untuk menikmati sendiri.
Anak yang menolak buku hampir tidak pernah sedang menolak cerita. Hampir semua anak menyukai cerita, terbukti dari betapa lamanya mereka bertahan menonton atau mendengarkan orang bercerita. Yang mereka tolak biasanya adalah pengalaman membaca yang selama ini terasa melelahkan, diuji, atau dipilihkan orang lain.
Jadi sebelum membeli buku lagi, coba satu hal sederhana malam ini: cari tahu ia ada di kelompok yang mana, lalu ubah satu hal saja sesuai kelompoknya. Sering kali yang dibutuhkan bukan buku baru, melainkan cara baru menemani ia membacanya.