Ia mengucapkannya sambil lalu, di antara suapan nasi, dengan nada yang biasa saja. Katanya tadi istirahat ia main sendiri, soalnya tidak ada yang mau main sama dia. Lalu ia melanjutkan makan dan berpindah membicarakan hal lain, seolah baru saja melaporkan cuaca.
Tetapi kalimat itu tidak ikut berpindah dari kepala Anda. Sepanjang sore ia terus terdengar, dan malamnya, saat rumah sudah sepi, Anda masih membayangkan anak itu berdiri sendirian di sudut halaman sekolah sementara yang lain berlarian. Anda membayangkan bel istirahat berbunyi besok dan hal yang sama terulang. Anda mungkin bahkan teringat masa kecil Anda sendiri.
Ini bagian yang jarang dibicarakan: pada urusan pertemanan anak, sering kali yang paling terluka justru ibunya. Anak sudah kembali bermain setengah jam kemudian, sementara Anda masih terjaga tengah malam mencari jawaban. Rasa itu tidak berlebihan dan tidak perlu ditutupi. Tetapi supaya bisa menolong dengan tepat, kita perlu memisahkan dulu mana yang benar-benar terjadi pada anak, dan mana yang sedang terjadi pada kita.
Cari Tahu Dulu Ia Sedang Mengatakan Apa
Kalimat tidak punya teman ternyata bisa berarti banyak hal yang sangat berbeda, dan anak usia SD memakai satu kalimat itu untuk semuanya. Bisa berarti hari ini saja ia tidak diajak, karena sahabatnya kebetulan tidak masuk. Bisa berarti ia punya beberapa teman main tetapi tidak punya satu sahabat dekat seperti yang ia inginkan. Bisa berarti ia baru saja bertengkar tadi pagi dan sedang merasa dunia berakhir.
Bisa juga berarti hal yang lebih berat: ia memang berulang kali ditolak, atau sengaja dijauhi. Empat kemungkinan ini terdengar mirip ketika diucapkan, padahal yang perlu kita lakukan sangat berbeda untuk masing-masing. Bertindak besar-besaran untuk pertengkaran sehari bisa membuat anak menyesal pernah bercerita, sementara menganggap ringan penolakan yang berulang membuat anak merasa sendirian dua kali.
Cara mencari tahunya bukan dengan menanyai bertubi-tubi, karena itu justru menutup pintu. Yang lebih berhasil adalah bertanya tentang kejadian, bukan tentang perasaan. Tanyakan tadi main apa saat istirahat, duduk di sebelah siapa, atau siapa yang paling sering bercanda di kelas. Pertanyaan seperti ini mudah dijawab dan pelan-pelan memberi Anda gambaran yang jauh lebih jelas daripada satu pertanyaan besar tentang punya teman atau tidak.
Perhatikan juga bahasa tubuhnya saat bercerita. Anak yang menyampaikannya dengan santai lalu langsung berpindah topik biasanya sedang melaporkan fakta hari itu. Anak yang menunduk, suaranya mengecil, atau menghindari topik itu berhari-hari sedang menyampaikan sesuatu yang jauh lebih berat, dan itu yang perlu ditindaklanjuti dengan tenang.
- Tanyakan kejadian, bukan perasaan: tadi main apa, duduk di sebelah siapa.
- Perhatikan apakah ia santai atau menghindari topiknya.
- Jangan menanyai setiap hari sepulang sekolah, itu terasa seperti pemeriksaan.
- Tanyakan juga hal yang menyenangkan hari itu, jangan hanya yang buruk.
Anak yang Senang Sendiri Tidak Selalu Sedang Kesepian
Sebagian anak memang lebih nyaman bermain dengan satu atau dua orang saja, dan sebagian lagi benar-benar menikmati waktu sendiri. Anak seperti ini bisa terlihat menyedihkan di mata orang dewasa, terutama bila kita sendiri dulu tumbuh dalam kelompok besar. Padahal bagi mereka, halaman yang ramai justru melelahkan, dan duduk sendiri sambil menggambar adalah cara mengisi tenaga.
Bedanya cukup jelas bila kita memperhatikan. Anak yang memang lebih suka sendiri biasanya tenang saat menceritakannya, tetap punya minat pada banyak hal, tidak menolak berangkat sekolah, dan senang bermain ketika ada satu teman yang cocok. Anak yang sedang kesepian menunjukkan hal lain: sedih saat membicarakannya, ingin diajak tetapi tidak tahu caranya, atau berkali-kali menyebut bahwa tidak ada yang menyukainya.
Membedakan keduanya penting karena menentukan sasaran kita. Untuk anak yang memang nyaman sendiri, sasarannya bukan membuat ia populer, melainkan memastikan ia punya satu atau dua hubungan yang aman. Satu sahabat sudah cukup bagi sebagian besar anak, dan mutu satu hubungan yang dekat biasanya jauh lebih berarti baginya daripada banyaknya nama yang ia kenal.
Yang perlu kita jaga adalah tidak menularkan kecemasan kita kepada anak yang sebenarnya baik-baik saja. Kalimat seperti kok kamu main sendirian terus, diucapkan berulang kali dengan nada khawatir, bisa membuat anak yang tadinya tenang mulai menganggap ada yang salah pada dirinya.
Bila Ia Memang Ingin Berteman tapi Belum Bisa Masuk
Untuk anak yang benar-benar ingin punya teman tetapi belum berhasil, yang paling menolong bukan nasihat umum seperti ayo lebih ramah. Anak seperti ini biasanya sudah ingin, hanya tidak tahu langkah teknisnya. Karena itu bantuan yang berguna berbentuk sangat kecil dan sangat konkret.
Mulailah dari satu anak, bukan dari kelompok. Tanyakan siapa satu orang di kelas yang menurutnya paling baik atau paling tidak menakutkan, lalu bangun dari situ. Mengundang satu anak bermain ke rumah selama satu atau dua jam adalah salah satu cara paling ampuh yang ada, karena di rumah anak Anda berada di wilayahnya sendiri dan jauh lebih mudah menunjukkan sisi terbaiknya. Pertemanan yang tumbuh di rumah sering berlanjut di sekolah.
Latih juga cara masuk ke permainan yang sudah berjalan, karena di situlah banyak anak tersendat. Bergabung dengan permainan yang sedang berlangsung itu keterampilan tersendiri: mendekat dulu, memperhatikan sebentar, lalu ikut mengerjakan apa yang sedang mereka kerjakan tanpa mengubah aturannya. Anak yang datang lalu langsung meminta giliran atau mengusulkan permainan lain sering ditolak, bukan karena tidak disukai melainkan karena mengganggu jalannya permainan.
Cara lain yang sering berhasil adalah memberi anak sesuatu yang membuatnya mudah didekati: permainan yang bisa dimainkan berdua saat istirahat, atau keterampilan yang menarik minat teman-temannya. Dan pertimbangkan kegiatan di luar sekolah, karena kelompok baru memberi kesempatan memulai dari nol tanpa membawa peran yang sudah terlanjur melekat di kelasnya.
- Undang satu anak bermain ke rumah, satu sampai dua jam saja.
- Bangun dari satu nama, jangan menargetkan kelompok besar.
- Latih cara bergabung: dekati, perhatikan, lalu ikut aturan yang sudah berjalan.
- Bekali dengan permainan sederhana yang bisa dimainkan berdua saat istirahat.
- Coba kegiatan di luar sekolah, tempat ia bisa memulai dari awal.
Yang Sebaiknya Ditahan Walaupun Niatnya Sangat Baik
Ada beberapa hal yang muncul justru karena kita sayang, tetapi hasilnya sering berkebalikan. Yang pertama adalah menanyai setiap hari begitu ia keluar gerbang. Pertanyaan harian tentang punya teman atau tidak membuat anak merasa sedang dinilai, dan lama-lama ia akan menjawab seadanya supaya percakapan cepat selesai.
Yang kedua adalah berbicara buruk tentang teman-temannya di depan anak. Terasa membela, tetapi menyulitkan anak, sebab anak-anak berbaikan jauh lebih cepat daripada orang dewasa. Besok mereka mungkin sudah main bersama lagi, dan anak Anda akan bingung karena ibunya sudah terlanjur menyebut mereka jahat.
Yang ketiga adalah turun tangan langsung kepada anak lain atau orang tuanya tanpa lewat sekolah. Selain jarang berhasil, cara ini sering membuat kedudukan anak Anda di kelas justru bertambah sulit. Bila memang perlu campur tangan, jalur yang paling aman dan paling efektif adalah lewat wali kelas.
Yang keempat adalah mengatur pertemanannya secara berlebihan sampai anak tidak pernah berlatih. Membuka kesempatan itu tugas kita, tetapi menjalin hubungannya tetap pekerjaan anak. Yang ia butuhkan adalah pintu yang dibukakan, bukan seluruh jalannya dituntun.
- Jangan menanyai soal teman setiap hari sepulang sekolah.
- Jangan menyebut teman-temannya jahat di hadapan anak.
- Jangan menegur anak lain atau orang tuanya langsung; lewat wali kelas.
- Jangan mengatur semua pertemanannya sampai ia tak sempat berlatih.
Bicara dengan Wali Kelas, dan Tanda Perundungan yang Tak Boleh Ditunda
Wali kelas melihat hal yang tidak Anda lihat: dengan siapa anak Anda duduk, apa yang terjadi saat istirahat, dan bagaimana teman-teman memperlakukannya. Datanglah dengan pertanyaan, bukan tuduhan. Sampaikan apa yang anak ceritakan di rumah, lalu tanyakan bagaimana yang terlihat di sekolah. Anda juga bisa meminta bantuan yang sangat spesifik, misalnya agar anak Anda dipasangkan dalam tugas kelompok dengan anak tertentu yang menurutnya nyaman.
Ada pula keadaan yang tidak boleh ditunda. Bila anak bukan sekadar tidak punya teman melainkan sedang diperlakukan buruk secara berulang oleh orang yang sama, itu perundungan dan harus ditangani sekolah, bukan diselesaikan dengan melatih anak Anda lebih ramah. Tandanya sering terlihat pada tubuh dan barang: memar yang penjelasannya berubah-ubah, barang yang sering hilang atau rusak, uang saku yang selalu habis tanpa jelas, atau keengganan mendadak yang keras untuk berangkat sekolah.
Tanda lain yang lebih halus adalah perubahan yang menetap: sulit tidur, mimpi buruk, mengompol kembali padahal sudah lama tidak, keluhan sakit perut atau sakit kepala hampir setiap pagi sekolah, dan menghilangnya minat pada hal yang dulu ia sukai. Yang paling penting untuk segera ditindaklanjuti adalah bila anak mengucapkan kalimat yang merendahkan dirinya berulang kali, misalnya bahwa tidak ada yang menyukainya atau lebih baik ia tidak ada. Kalimat seperti itu jangan pernah dianggap sekadar mencari perhatian.
Dalam keadaan seperti ini, sampaikan kepada pihak sekolah secara tertulis agar ada catatannya, dan pertimbangkan mendampingkan psikolog anak. Meminta bantuan lebih awal bukan tanda berlebihan, melainkan cara memastikan anak Anda tidak menanggungnya sendirian lebih lama dari yang perlu.
Dan Satu Hal untuk Bunda Sendiri
Bagian ini pantas ditulis terpisah, karena hampir tidak pernah dibahas. Ketika anak bercerita tentang kesepiannya, yang bangkit dalam diri kita sering bukan hanya kekhawatiran tentangnya, melainkan juga kenangan kita sendiri. Ibu yang dulu pernah dijauhi akan mendengar kalimat anaknya dengan volume yang jauh lebih keras daripada yang dimaksudkan anaknya.
Tidak apa-apa merasa begitu, tetapi ada baiknya menyadarinya, sebab kecemasan kita mudah sekali menular. Anak yang melihat ibunya panik akan menyimpulkan bahwa keadaannya memang gawat, padahal tadi ia hanya bercerita tentang satu jam istirahat yang membosankan. Menarik napas dulu sebelum menanggapi sering menjadi pertolongan pertama yang paling berguna.
Ingat juga bahwa dunia pertemanan anak berubah sangat cepat. Anak yang minggu ini sendirian bisa punya kelompok baru bulan depan, sering karena hal sepele seperti pindah tempat duduk. Ini bukan alasan untuk menutup mata, melainkan alasan untuk tidak menganggap keadaan hari ini sebagai gambaran seluruh masa depannya.
Yang Bisa Dicoba Malam Ini Juga
- Tanyakan hal yang mudah dijawab: tadi duduk di sebelah siapa, dan main apa saat istirahat.
- Cari satu nama saja: siapa anak di kelas yang menurutnya paling enak diajak main.
- Rencanakan mengundang satu anak itu bermain ke rumah akhir pekan ini.
- Berhenti menanyakan soal teman setiap hari sepulang sekolah, mulai besok.
- Susun satu pertanyaan untuk wali kelas, dan kirim lewat pesan besok pagi.
Bab pertamanya bisa Anda dengarkan gratis
Kalau tulisan ini terasa menggambarkan rumah Anda, bab pertama buku “Anak Berani Bicara & Percaya Diri” membahasnya lebih dalam, tentang menumbuhkan keberanian anak yang pemalu dan sulit bicara. Bab itu bisa dibaca, atau didengarkan seperti dongeng sambil menyetrika dan menemani anak tidur. Gratis, tanpa mendaftar, tanpa memasukkan email.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Anak bilang tidak punya teman di sekolah, harus bagaimana?
Cari tahu dulu maksudnya, karena kalimat itu bisa berarti hari ini saja tidak diajak, belum punya sahabat dekat, baru bertengkar, atau memang berulang kali dijauhi. Tanyakan kejadiannya, bukan perasaannya. Setelah jelas, mulailah dari satu anak saja, misalnya dengan mengundangnya bermain ke rumah.
Apakah anak yang suka main sendiri berarti bermasalah?
Belum tentu. Sebagian anak memang lebih nyaman dengan satu atau dua teman, dan satu sahabat dekat umumnya sudah cukup. Yang perlu diperhatikan adalah bila ia sedih saat membicarakannya, ingin diajak tetapi tidak tahu caranya, menolak sekolah, atau berulang kali mengatakan tidak ada yang menyukainya.
Bolehkah orang tua menegur teman anak atau orang tuanya langsung?
Sebaiknya tidak, karena jarang berhasil dan sering membuat kedudukan anak di kelas bertambah sulit. Jalur yang paling aman adalah lewat wali kelas, dengan membawa pertanyaan dan bukan tuduhan. Bila ada tanda perundungan berulang, sampaikan kepada sekolah secara tertulis agar tercatat.
Mendengar anak berkata ia tidak punya teman adalah salah satu kalimat yang paling sulit ditanggung orang tua, sebagian karena kita tidak bisa masuk ke halaman sekolah itu dan memperbaikinya sendiri. Tetapi yang bisa kita lakukan ternyata cukup banyak, dan hampir semuanya berukuran kecil: satu pertanyaan yang lebih mudah dijawab, satu nama, satu undangan bermain akhir pekan.
Dan bila malam ini Anda termasuk yang terjaga sementara anak Anda sudah tertidur pulas, ketahuilah bahwa itu bukan tanda Anda berlebihan. Itu tanda ia punya seseorang yang memikirkannya bahkan saat ia sendiri sudah melupakannya. Besok pagi, mulailah dari satu langkah kecil saja, dan biarkan sisanya tumbuh dengan waktunya sendiri.