Anak Takut Disuntik Imunisasi di Sekolah? Ini Caranya

Surat dari sekolah itu sudah dibaca sejak sore, dan sejak itu suasana rumah berubah. Menjelang tidur, ia bertanya untuk kelima kalinya apakah besok benar-benar disuntik. Lalu datang tawaran-tawaran kecil yang menyayat: besok tidak usah sekolah saja, atau pura-pura sakit perut saja, atau nanti sembunyi di kamar mandi saat gilirannya dipanggil.

Anda mencoba menenangkan dengan kalimat yang paling masuk akal saat itu, bahwa suntiknya tidak sakit dan cuma sebentar. Ia diam sejenak, lalu menangis lagi. Sebagian dari Anda ingin berkata sudah, nanti juga selesai, karena besok pagi masih ada seragam yang harus disetrika dan bekal yang harus disiapkan. Sebagian lagi ikut sedih, karena Anda tahu persis rasanya takut jarum.

Malam seperti ini melelahkan, tetapi sebenarnya ini juga kesempatan yang bagus. Yang paling menentukan bagaimana anak menghadapi jarum besok bukan seberapa berani ia, melainkan apa yang terjadi malam ini dan beberapa menit sebelum gilirannya. Dan hampir semuanya ada dalam jangkauan Anda.

Takut Jarum Itu Wajar, dan Bukan Tanda Anak Penakut

Rasa takut terhadap jarum termasuk salah satu ketakutan paling umum, dan bukan hanya pada anak-anak. Banyak orang dewasa yang berani menghadapi hal-hal lain tetap merasa lemas saat melihat jarum suntik. Jadi bila anak Anda menangis sejak malam sebelumnya, ia sedang berperilaku seperti sebagian besar manusia, bukan sedang berlebihan.

Yang membuatnya lebih berat pada anak adalah dua hal. Pertama, ia tidak punya kendali sama sekali: ia tidak bisa memilih waktunya, tidak bisa memilih siapa yang menyuntik, dan tidak bisa memilih untuk tidak ikut. Kedua, ia akan menjalaninya di depan teman-teman sekelasnya. Bagi banyak anak usia SD, kemungkinan menangis di depan teman terasa hampir sama menakutkannya dengan jarum itu sendiri.

Ada pula anak yang takutnya justru datang dari cerita. Kakak kelas yang bercerita berlebihan saat istirahat, potongan video yang ia lihat, atau kenangan tentang imunisasi tahun lalu yang tidak berjalan baik. Menanyakan dengan tenang apa persisnya yang paling ia takutkan sering mengejutkan kita, karena kadang yang ditakuti bukan sakitnya, melainkan hal lain sama sekali, misalnya melihat darah atau harus melepas lengan baju di depan teman.

Menyadari ini penting karena mengubah cara kita menolong. Selama kita mengira masalahnya cuma rasa sakit, kita akan terus meyakinkan bahwa ini tidak sakit. Begitu kita tahu apa yang sebenarnya ditakuti, pertolongannya bisa jauh lebih tepat sasaran.

Kenapa Kalimat Nggak Sakit Kok Justru Merugikan Anda

Kalimat ini keluar dari niat baik dan diucapkan hampir semua orang tua. Persoalannya, anak akan segera mengetahui bahwa itu tidak sepenuhnya benar, dan ia mengetahuinya pada saat yang paling buruk: ketika jarum sudah menyentuh lengannya dan ia tidak bisa ke mana-mana. Yang runtuh saat itu bukan hanya keberaniannya, melainkan kepercayaannya pada keterangan Anda.

Akibatnya baru terasa pada imunisasi berikutnya, atau saat ia harus diambil darah karena sakit. Anak yang pernah merasa dibohongi akan bertanya berulang kali dan tidak percaya pada jawaban apa pun. Padahal kepercayaan itulah alat paling berguna yang Anda punya untuk menenangkannya di kemudian hari.

Yang lebih menolong adalah jujur dengan takaran yang pas. Akui bahwa akan terasa, sebutkan bahwa rasanya sebentar, dan bandingkan dengan sesuatu yang sudah ia kenal, misalnya seperti dicubit cepat. Kejujuran seperti ini justru menenangkan, karena anak berhenti membayangkan hal yang jauh lebih besar daripada kenyataannya. Bayangan yang tidak dibatasi selalu lebih menakutkan daripada keterangan yang jelas.

Hal lain yang sebaiknya benar-benar dihentikan adalah memakai jarum sebagai ancaman di hari-hari biasa. Kalimat seperti nanti disuntik lho kalau tidak mau makan terdengar sepele, tetapi menabung ketakutan yang harus Anda bayar di hari seperti besok, dan juga membuat petugas kesehatan menjadi sosok yang menakutkan padahal ia yang akan menolong anak Anda.

  • Jangan berjanji tidak sakit; katakan terasa sebentar seperti dicubit cepat.
  • Jangan memakai suntikan sebagai ancaman di hari-hari biasa.
  • Jangan menjelaskan berhari-hari sebelumnya untuk anak yang mudah cemas.
  • Jangan mengejek atau membandingkan dengan teman yang tidak menangis.

Yang Bisa Dilatih Malam Ini, Cukup Sepuluh Menit

Yang paling menolong anak besok bukan nasihat, melainkan sesuatu yang bisa ia lakukan dengan tubuhnya sendiri saat gilirannya tiba. Anak yang punya tugas jelas merasa lebih memegang kendali, dan rasa punya kendali inilah yang paling banyak menurunkan ketakutan. Jadi malam ini, latih satu atau dua hal saja, jangan banyak-banyak.

Latihan pertama adalah napas. Ajak ia menarik napas lewat hidung sambil menghitung sampai empat, lalu mengembuskannya pelan lewat mulut seperti meniup lilin ulang tahun, juga sampai empat. Ulangi tiga kali sambil bercanda, lalu sepakati bahwa besok ia akan melakukan ini saat antre. Latihan yang sudah dicoba di rumah jauh lebih mungkin dipakai daripada instruksi yang baru didengar di tempat.

Latihan kedua adalah menyiapkan pengalih perhatian yang nyata. Sepakati satu hal yang akan ia lakukan tepat saat disuntik: menggenggam tangan Anda erat-erat, menghitung mundur dari sepuluh, meremas benda kecil di saku, atau melihat ke arah lain sambil mencari benda berwarna tertentu di ruangan. Anak yang matanya punya tujuan lain hampir selalu lebih tenang daripada anak yang menatap jarum.

Latihan ketiga adalah menyusun kalimat pendek yang akan ia ucapkan dalam hati. Cukup satu kalimat sederhana seperti sebentar saja lalu selesai. Menulisnya di kertas kecil dan menyelipkannya di saku terdengar sepele, tetapi banyak anak memegangi kertas itu sepanjang antrean dan merasa lebih tenang karenanya.

  • Latih napas empat hitungan masuk, empat hitungan keluar, tiga kali saja.
  • Sepakati satu pengalih perhatian: genggam tangan, hitung mundur, atau lihat ke arah lain.
  • Siapkan satu kalimat pendek untuk diucapkan dalam hati.
  • Pastikan ia sarapan besok pagi, jangan berangkat dengan perut kosong.
  • Pilihkan baju berlengan longgar supaya tidak repot saat gilirannya tiba.

Pagi Hari-H dan Beberapa Menit Sebelum Gilirannya

Pagi hari sebaiknya berjalan sebiasa mungkin. Membicarakan suntikan berulang-ulang sejak bangun tidur justru memperpanjang waktu anak mencemaskannya. Sebutkan sekali saja dengan tenang, ingatkan tugas yang sudah kalian latih semalam, lalu lanjutkan pagi seperti biasa. Pastikan ia sarapan, karena perut kosong membuat sebagian anak lebih mudah pusing dan lemas.

Bila sekolah memperbolehkan orang tua mendampingi, kehadiran Anda sangat berarti, tetapi cara mendampingi juga menentukan. Duduklah agar ia bisa bersandar atau dipangku bila masih kecil, karena posisi yang tegak dan disandarkan biasanya lebih menenangkan daripada berbaring. Genggam tangannya, bicara dengan suara biasa tentang hal lain, dan hindari menghitung mundur menuju detik penyuntikan karena itu justru menaikkan ketegangan.

Yang paling menular adalah wajah Anda. Anak membaca ekspresi orang dewasa jauh lebih cermat daripada mendengar kalimatnya, jadi bila Anda sendiri tegang melihat jarum, sebaiknya arahkan pandangan ke wajah anak, bukan ke lengannya. Bila Anda termasuk yang takut jarum, tidak apa-apa mengakuinya nanti setelah selesai; justru itu cerita yang menyenangkan baginya.

Bila ternyata ia tetap menangis, itu bukan kegagalan. Menangis tidak membuat suntikannya lebih sakit dan tidak membuat anak lebih lemah. Yang perlu dihindari hanyalah mempermalukannya setelah itu, apalagi di depan teman-temannya.

Setelah Selesai, Bagian yang Menentukan Imunisasi Berikutnya

Beberapa menit setelah selesai adalah bagian yang paling sering disepelekan, padahal di situlah kenangan anak tentang hari ini terbentuk. Kenangan itulah yang akan ia bawa ke imunisasi berikutnya, dan bila kenangannya baik, tahun depan jauh lebih mudah.

Puji hal yang benar. Bukan memuji karena tidak menangis, sebab itu mengajarkan bahwa menangis adalah kegagalan, melainkan memuji karena ia tetap masuk ke ruangan itu meskipun takut. Sebutkan secara spesifik apa yang ia lakukan dengan baik: menarik napas seperti yang dilatih, atau tetap duduk meski tangannya gemetar. Anak yang mendengar keberaniannya dinamai dengan tepat akan mengingatnya lebih lama.

Ceritakan ulang kejadiannya dengan nada yang tenang di rumah nanti, dan biarkan ia yang bercerita kepada ayahnya atau kakaknya. Menceritakan ulang membantu anak menyusun pengalaman itu menjadi sesuatu yang selesai dan bisa dikendalikan, bukan sesuatu yang menakutkan dan menggantung.

Untuk keluhan setelah imunisasi seperti demam ringan, nyeri, atau bengkak di bekas suntikan, ikuti keterangan dari petugas kesehatan sekolah atau tanyakan kepada dokter anak. Jangan menebak sendiri dan jangan memberi obat tanpa keterangan yang jelas, sebab yang tampak sepele pada satu anak bisa berbeda pada anak lain.

Kapan Ketakutan Jarum Perlu Dibicarakan dengan Ahli

Sebagian besar anak takut sebentar lalu selesai, dan tahun berikutnya lebih ringan. Tetapi ada keadaan yang layak dibicarakan dengan tenaga profesional. Bila ketakutannya begitu besar sampai anak sama sekali tidak bisa dijangkau, misalnya melawan sekuat tenaga, panik hebat, atau sampai pingsan setiap kali melihat jarum, itu bukan lagi sekadar takut biasa dan ada cara penanganan tersendiri untuknya.

Perhatikan juga bila ketakutan ini meluas. Anak yang jadi menolak pergi ke sekolah berhari-hari sebelum jadwal imunisasi, tidak bisa tidur berhari-hari, atau menolak semua pemeriksaan kesehatan termasuk yang tidak melibatkan jarum, sedang menunjukkan bahwa cemasnya sudah lebih besar daripada peristiwanya.

Bicarakan dengan dokter anak atau psikolog anak, dan sampaikan juga kepada petugas kesehatan sebelum hari pelaksanaan bila anak Anda punya riwayat panik atau pernah pingsan. Petugas yang tahu lebih awal bisa menyiapkan penanganan yang berbeda, misalnya mendahulukan atau mengakhirkan gilirannya, atau melakukannya di ruangan yang lebih tenang. Memberi tahu bukan berarti menuntut perlakuan khusus, melainkan membantu semua orang menjalani harinya dengan lebih baik.

Yang Bisa Dikerjakan Malam Ini Juga

  • Tanyakan dengan tenang: bagian mana yang paling ia takutkan, jarumnya atau hal lain.
  • Latih napas empat hitungan bersama, tiga kali saja, sambil bercanda.
  • Sepakati satu tugas untuk besok: menggenggam tangan, atau menghitung mundur dari sepuluh.
  • Tulis satu kalimat pendek di kertas kecil untuk diselipkan di sakunya.
  • Siapkan baju berlengan longgar dan pastikan besok ia sarapan sebelum berangkat.

Bab pertamanya bisa Anda dengarkan gratis

Kalau tulisan ini terasa menggambarkan rumah Anda, bab pertama buku “Gen Alpha — Generasi Paling Cemas dalam Sejarah” membahasnya lebih dalam, tentang kenapa anak kita tumbuh dengan kecemasan yang tak dialami generasi sebelumnya. Bab itu bisa dibaca, atau didengarkan seperti dongeng sambil menyetrika dan menemani anak tidur. Gratis, tanpa mendaftar, tanpa memasukkan email.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Sebaiknya anak diberi tahu berapa lama sebelum jadwal imunisasi?

Untuk anak yang mudah cemas, memberi tahu terlalu jauh hari justru memperpanjang waktu mencemaskannya. Memberi tahu pada malam sebelumnya biasanya sudah cukup, disertai latihan singkat yang bisa ia lakukan besok. Yang penting jangan sampai ia tidak diberi tahu sama sekali, karena kejutan merusak kepercayaannya.

Bolehkah bilang ke anak kalau disuntik itu tidak sakit?

Sebaiknya tidak, karena anak akan mengetahui kenyataannya pada saat yang paling buruk dan kepercayaannya pada keterangan Anda ikut runtuh. Lebih menolong bila jujur dengan takaran yang pas, misalnya menyebut akan terasa sebentar seperti dicubit cepat. Kejujuran justru menenangkan karena membatasi bayangannya.

Bagaimana kalau anak sampai melawan dan menangis hebat di sekolah?

Menangis tidak membuat suntikannya lebih sakit dan bukan tanda anak lemah, jadi hindari mempermalukannya setelahnya. Bila ketakutannya sangat hebat sampai panik atau pernah pingsan, sampaikan kepada petugas kesehatan sebelum hari pelaksanaan dan bicarakan dengan dokter anak, karena ada cara penanganan tersendiri.

Malam sebelum imunisasi memang terasa panjang, apalagi bila Anda juga lelah dan besok masih banyak yang harus dikerjakan. Tetapi yang sedang Anda kerjakan malam ini bukan sekadar melewati besok pagi. Anda sedang mengajari anak bahwa hal yang menakutkan bisa dihadapi dengan persiapan, dan bahwa keterangan dari orang tuanya bisa dipercaya.

Besok mungkin ia tetap menangis, dan itu tidak apa-apa. Yang akan ia ingat bertahun-tahun kemudian biasanya bukan rasa sakitnya, melainkan siapa yang menggenggam tangannya dan apa yang dikatakan kepadanya setelah semuanya selesai.

Bacaan lanjutan


📚Pustaka Anda