Anak SD Sering Menangis Tanpa Sebab, Ini Sebabnya

Sendoknya jatuh ke lantai, dan tiba-tiba ia menangis. Bukan merengek sebentar lalu selesai, melainkan menangis sungguhan, sampai bahunya berguncang. Anda menatapnya beberapa detik sambil mencoba mengerti, karena sendok jatuh biasanya bukan perkara apa-apa di rumah ini. Ketika Anda bertanya kenapa, jawabannya cuma gelengan kepala dan tangis yang justru bertambah keras.

Yang membuat bingung, ini bukan anak balita lagi. Ia sudah kelas dua, sudah bisa mengurus dirinya sendiri, sudah bisa berdebat dengan alasan yang runut. Kalau ia menangis waktu umur dua tahun, semua orang mengerti. Tapi menangis pada usia sekarang, tanpa sebab yang bisa ditunjuk, membuat Anda diam-diam bertanya apakah ada yang salah.

Dan hampir setiap tulisan yang Anda temukan berbicara tentang balita: tumbuh gigi, kolik, tantrum umur dua tahun. Sedikit sekali yang membahas anak seusia anak Anda. Jadi mari kita mulai dari satu hal yang perlu diletakkan lebih dulu: tangis tanpa sebab itu sebenarnya tidak ada. Sebabnya selalu ada, hanya saja pada anak usia SD sebab itu sering sudah lewat waktunya, atau belum kebagian kata untuk diucapkan.

Yang Anda Lihat Adalah Tetesan Terakhir, Bukan Seluruh Isinya

Cara paling mudah memahami tangis semacam ini adalah membayangkan gelas yang diisi sedikit demi sedikit sepanjang hari. Pagi tadi ia dimarahi karena lambat bersiap. Di sekolah ia tidak diajak main saat istirahat, lalu jawabannya ditertawakan seorang teman. Siang tadi ia lapar tetapi menunggu sampai jam pulang. Tak satu pun dari kejadian itu cukup besar untuk diceritakan, tetapi semuanya menambah isi gelas.

Lalu sendok jatuh. Kejadian sekecil itu bukan penyebab tangisnya, melainkan tetesan yang membuat gelas meluap. Karena itu ketika kita bertanya kenapa menangis dan ia menjawab tidak tahu, jawaban itu jujur. Ia benar-benar tidak tahu, sebab yang ia rasakan bukan kesedihan tentang sendok, melainkan kepenuhan yang sudah menumpuk sejak pagi.

Ini juga menjelaskan kenapa tangisnya lebih sering meledak di rumah daripada di sekolah. Anak menahan diri sepanjang hari di tempat yang menuntutnya berperilaku baik, dan tahanan itu baru bisa dilepaskan di tempat yang ia rasa paling aman. Ironisnya, tempat paling aman itu adalah dekat Anda. Anak yang meledak di depan ibunya sedang menunjukkan kepercayaan, meskipun rasanya sama sekali tidak seperti pujian.

Kalau Anda memperhatikan waktunya, polanya sering terlihat. Banyak keluarga mendapati tangis semacam ini muncul di jam yang sama setiap hari: sekitar setengah jam setelah pulang sekolah, atau menjelang tidur. Jam-jam itu adalah saat pertahanan anak turun, dan itu petunjuk yang lebih berguna daripada mencari penyebab pada kejadian terakhir.

Anak Usia SD Punya Perasaan Besar dengan Kosakata yang Masih Sedikit

Kita mudah lupa bahwa kemampuan menamai perasaan itu keterampilan tersendiri, dan ia tumbuh belakangan dibanding kemampuan berbicara. Anak kelas dua bisa menceritakan seluruh alur film dengan lancar, tetapi belum tentu punya kata untuk membedakan antara kecewa, malu, iri, dan takut. Yang ia rasakan cuma satu: tidak enak, besar, dan ada di dada.

Ketika kita bertanya kenapa menangis, sebetulnya kita sedang meminta ia melakukan pekerjaan yang cukup rumit. Ia harus menyadari perasaannya, memilih kata yang tepat, lalu menyusunnya menjadi kalimat, semuanya sambil menangis. Orang dewasa saja sering gagal melakukan itu saat sedang kesal. Karena itu pertanyaan kenapa hampir selalu berakhir dengan gelengan kepala.

Ada pula anak yang tahu sebabnya tetapi memilih tidak mengatakannya. Alasannya sering sepele di mata kita namun besar baginya: takut dibilang cengeng, takut dimarahi, atau takut membuat ibunya sedih. Anak yang pernah mendengar kalimat masa gitu aja nangis biasanya belajar bahwa sebagian perasaannya lebih baik disimpan sendiri.

Maka pekerjaan kita bukan menuntut penjelasan, melainkan meminjamkan kata. Menyebutkan kemungkinan dengan tenang, seperti sepertinya hari ini capek sekali ya, sering membuka pintu yang tidak bisa dibuka oleh pertanyaan kenapa. Anak yang mendengar perasaannya dinamai dengan tepat biasanya langsung mengangguk, dan tangisnya mulai mereda.

Yang Menolong Saat Tangisnya Sedang Berlangsung

Saat tangis sedang memuncak, hampir semua kalimat penjelasan tidak akan masuk. Bagian diri anak yang sedang bekerja saat itu bukan bagian yang bisa diajak berpikir. Karena itu sasaran kita pada menit-menit tersebut bukan menyelesaikan masalah, melainkan menurunkan gelombangnya lebih dulu.

Yang paling menolong biasanya kehadiran yang tenang tanpa banyak kata. Duduk di dekatnya, menurunkan tinggi badan sejajar dengannya, dan menunggu sambil sesekali mengusap punggungnya sudah cukup. Bila ia menolak disentuh, tetap duduk di dekatnya dan katakan bahwa Anda ada di situ. Anak perlu tahu bahwa perasaannya tidak membuat Anda pergi.

Hindari tiga hal yang sering keluar tanpa sengaja saat kita sendiri sudah lelah: menyuruh berhenti menangis, membandingkan dengan orang lain yang lebih menderita, dan menawarkan hadiah supaya diam. Yang pertama mengajari anak bahwa perasaannya mengganggu, yang kedua mengajari bahwa perasaannya tidak cukup penting, dan yang ketiga mengajari bahwa tangis adalah alat tawar-menawar.

Setelah reda, jangan langsung menagih penjelasan. Beri jeda, tawarkan air minum, dan biarkan napasnya kembali normal. Percakapan yang berguna hampir selalu terjadi setelah badai lewat, bukan di tengahnya.

  • Turunkan badan sejajar dengannya, jangan bicara dari posisi berdiri.
  • Kurangi kata-kata; kehadiran yang tenang bekerja lebih cepat.
  • Jangan menyuruh berhenti menangis atau membandingkan dengan orang lain.
  • Tawarkan air minum setelah reda, sebelum mulai bicara.
  • Simpan pembicaraan untuk nanti, saat napasnya sudah tenang.

Menemukan Sebabnya Tanpa Terasa Seperti Diinterogasi

Pertanyaan langsung sering justru menutup pintu, apalagi bila diajukan berhadap-hadapan dengan tatapan penuh perhatian. Anak merasa sedang diperiksa, dan jawaban yang paling aman adalah tidak apa-apa. Cara yang jauh lebih berhasil adalah berbicara sambil melakukan hal lain, sehingga tidak ada yang saling menatap.

Saat melipat baju bersama, saat perjalanan pulang di motor, saat memotong sayur, atau saat lampu sudah dimatikan menjelang tidur adalah waktu-waktu yang sering membuka cerita. Ganti pertanyaan kenapa dengan pertanyaan yang lebih mudah dijawab: bagian mana dari hari ini yang paling menyenangkan, dan bagian mana yang paling tidak enak. Dua pertanyaan ini memberi anak kerangka, dan biasanya jauh lebih produktif daripada satu pertanyaan besar.

Bila ia tetap belum mau bercerita, jangan dipaksa. Katakan saja bahwa Anda ada kalau nanti ia mau cerita, lalu benar-benar berhenti bertanya. Anak yang tahu pintu itu tidak akan ditutup biasanya datang sendiri beberapa hari kemudian, kadang pada waktu yang paling tidak terduga.

Yang juga menolong adalah mencatat polanya selama seminggu atau dua minggu. Cukup di catatan HP: hari apa, jam berapa, dan apa yang terjadi tepat sebelumnya. Pola sering muncul lebih cepat daripada dugaan, misalnya selalu pada hari ada pelajaran tertentu, atau selalu pada hari ketika ia pulang lebih sore. Catatan ini juga sangat berguna bila nanti Anda perlu berbicara dengan guru atau tenaga profesional.

  • Bicara sambil melakukan hal lain, jangan berhadap-hadapan.
  • Ganti pertanyaan kenapa dengan bagian terbaik dan terburuk hari ini.
  • Berhenti bertanya bila ia belum siap, dan sampaikan pintunya tetap terbuka.
  • Catat polanya seminggu: hari, jam, dan kejadian tepat sebelumnya.
  • Periksa juga hal mendasar: cukup tidur, cukup makan, dan tidak sedang sakit.

Periksa Dulu Tiga Hal yang Paling Sering Terlewat

Sebelum mencari sebab yang rumit, ada tiga hal mendasar yang sangat sering menjadi biang keladi dan mudah sekali diperiksa. Yang pertama adalah tidur. Anak SD memerlukan tidur malam yang panjang, dan anak yang kurang tidur menahun akan menangis jauh lebih mudah, persis seperti orang dewasa yang kurang tidur menjadi lebih pendek sabarnya.

Yang kedua adalah lapar dan gula darah yang turun. Banyak anak menghabiskan bekalnya hanya sebagian, atau tidak sempat makan karena asyik bermain saat istirahat. Tangis yang muncul rutin sekitar jam pulang sekolah sering kali sekadar tubuh yang kehabisan bahan bakar, dan hilang setelah beberapa hari dicoba memberi camilan segera setibanya di rumah.

Yang ketiga adalah kondisi tubuh yang belum ketahuan. Anak yang sedang menahan sakit gigi, radang tenggorokan ringan, gatal karena alergi, atau kelelahan setelah sakit akan lebih mudah menangis tanpa bisa menjelaskan. Bila tangisnya muncul bersamaan dengan perubahan nafsu makan atau pola tidur, memeriksakan ke dokter anak lebih dulu adalah langkah yang wajar dan sering menjawab semuanya.

  • Tidur: apakah jam tidurnya cukup panjang dan tetap setiap malam?
  • Makan: apakah bekalnya benar-benar habis, dan kapan terakhir ia makan?
  • Tubuh: adakah keluhan kecil yang belum sempat diperiksa?

Kapan Tangis Ini Perlu Dibicarakan dengan Ahli

Menangis adalah cara yang sehat bagi anak untuk melepaskan tekanan, dan sebagian besar anak membaik ketika ia merasa didengar serta kebutuhan dasarnya terpenuhi. Tetapi ada keadaan yang sebaiknya tidak hanya ditunggu. Bila tangis semacam ini terjadi hampir setiap hari selama berminggu-minggu, semakin sering, dan mulai mengganggu sekolah, tidur, atau pertemanannya, itu layak dibicarakan.

Perhatikan juga bila tangisnya disertai perubahan lain: kehilangan minat pada hal yang dulu ia sukai, menarik diri dari teman, tidak mau berangkat sekolah, keluhan tubuh berulang yang tak jelas sebabnya, perubahan nafsu makan, atau kesulitan tidur yang menetap. Yang paling penting untuk segera dibicarakan adalah bila anak mengucapkan kalimat yang merendahkan dirinya sendiri secara berulang, misalnya bahwa ia tidak berguna. Kalimat seperti itu jangan pernah dianggap sekadar cari perhatian.

Pintu pertama bisa dokter anak, psikolog anak, atau guru bimbingan konseling di sekolah. Bawalah catatan pola yang sudah Anda kumpulkan, karena justru itu yang paling menghemat waktu pertemuan pertama. Mencari bantuan sejak awal bukan berarti ada yang rusak pada anak Anda, melainkan cara memastikan bahwa bila memang ada yang perlu dibantu, bantuannya datang lebih cepat.

Yang Bisa Dicoba Malam Ini Juga

  • Buka catatan HP, buat daftar sederhana: tanggal, jam, dan kejadian tepat sebelum ia menangis.
  • Malam ini, saat lampu sudah dimatikan, tanyakan bagian terbaik dan terburuk hari ini.
  • Sediakan camilan begitu ia sampai rumah besok, sebelum ditanya apa pun.
  • Cek jam tidurnya: apakah benar-benar cukup panjang setiap malam?
  • Latih satu kalimat untuk dipakai saat ia menangis lagi: sepertinya hari ini berat sekali ya.

Bab pertamanya bisa Anda dengarkan gratis

Kalau tulisan ini terasa menggambarkan rumah Anda, bab pertama buku “Gen Alpha — Generasi Paling Cemas dalam Sejarah” membahasnya lebih dalam, tentang kenapa anak kita tumbuh dengan kecemasan yang tak dialami generasi sebelumnya. Bab itu bisa dibaca, atau didengarkan seperti dongeng sambil menyetrika dan menemani anak tidur. Gratis, tanpa mendaftar, tanpa memasukkan email.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Normalkah anak SD masih sering menangis tanpa sebab?

Menangis tetap cara yang wajar bagi anak SD untuk melepaskan tekanan, dan kemampuan menamai perasaan memang baru tumbuh pada usia ini. Yang perlu diperhatikan bukan kejadiannya sesekali, melainkan bila tangisnya hampir setiap hari selama berminggu-minggu dan mulai mengganggu sekolah, tidur, atau pertemanannya.

Kenapa anak menangis di rumah tapi baik-baik saja di sekolah?

Karena anak menahan diri sepanjang hari di tempat yang menuntutnya berperilaku baik, lalu melepaskannya di tempat yang paling ia rasa aman. Meledak di depan Anda justru tanda kepercayaan, meskipun rasanya melelahkan. Guru yang melaporkan anak tampak biasa saja di sekolah tidak berarti tidak ada apa-apa.

Apa yang sebaiknya dikatakan saat anak menangis dan tidak mau menjelaskan?

Hindari pertanyaan kenapa saat tangis sedang memuncak, karena menamai perasaan sambil menangis itu pekerjaan yang berat. Lebih menolong bila Anda meminjamkan kata, misalnya menyebut bahwa sepertinya hari ini berat sekali. Simpan pembicaraan untuk setelah ia tenang, sambil melakukan kegiatan lain.

Tangis yang tidak bisa dijelaskan memang melelahkan, terutama karena kita ingin memperbaiki sesuatu dan tidak tahu harus memperbaiki yang mana. Tetapi pada anak usia SD, yang paling sering dibutuhkan bukan perbaikan, melainkan tempat yang cukup aman untuk mengosongkan gelas yang terlalu penuh. Tempat itu, sesulit apa pun rasanya, adalah Anda.

Mulailah dari satu hal kecil malam ini: satu catatan pola, atau satu kalimat yang meminjamkan kata untuk perasaannya. Dalam beberapa pekan, biasanya bukan tangisnya yang lebih dulu berkurang, melainkan kemampuannya bercerita yang mulai bertambah. Dan ketika ia sudah punya kata, tangis itu tidak lagi perlu berbicara mewakilinya.

Bacaan lanjutan


📚Pustaka Anda