Doa agar Anak Berani dan Percaya Diri, Ini Amalannya

Biasanya pencarian ini diketik pada jam yang sepi. Bisa jadi selepas Subuh saat rumah belum ramai, bisa juga larut malam setelah semua tidur dan Anda teringat wajah anak yang tadi sore menunduk ketika disapa tetangga. Sepanjang hari Anda sudah mencoba banyak cara, sudah membujuk dan menyemangati, dan tidak ada yang benar-benar berubah. Maka yang tersisa adalah menengadahkan tangan.

Sebagian ibu merasa sedikit malu pada dirinya sendiri saat sampai di titik ini, seolah mencari doa berarti sudah kehabisan akal. Perasaan itu bisa dimengerti, tetapi keliru. Berdoa bukan langkah terakhir orang yang menyerah; ia justru bentuk paling jujur dari kesadaran bahwa ada bagian dari anak kita yang tidak berada dalam genggaman kita, sekeras apa pun kita berusaha.

Tulisan ini memuat doa yang bisa Bunda panjatkan, dan sengaja tidak berhenti di situ. Sebab doa dalam tradisi kita tidak pernah berdiri sendirian; ia selalu berpasangan dengan ikhtiar. Jadi setelah doanya, ada bagian tentang apa yang bisa dikerjakan di rumah esok pagi, supaya yang Anda pinta di sepertiga malam punya jalan untuk menjelma di ruang tamu.

Doa Nabi Musa, Permintaan yang Sangat Dekat dengan Keadaan Anak Pendiam

Di antara doa yang paling sering dibaca untuk urusan keberanian berbicara adalah doa Nabi Musa dalam Surah Thaha ayat 25 sampai 28. Bunyinya: Rabbisyrah lī ṣadrī, wa yassir lī amrī, waḥlul ʿuqdatam min lisānī, yafqahū qaulī. Artinya kurang lebih: Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.

Yang membuat doa ini terasa sangat dekat adalah urutannya. Permintaan pertama bukan tentang lidah, melainkan tentang dada yang lapang. Baru setelah itu tentang urusan yang dimudahkan, lalu tentang lidah yang dilepaskan dari kekakuannya, dan terakhir tentang perkataan yang dimengerti orang lain. Urutan ini seolah mengakui bahwa suara yang tertahan berakar pada dada yang sesak, bukan pada mulut yang malas.

Bunda bisa membacanya dengan cara yang sederhana. Panjatkan setelah salat, atau saat menengok anak yang sudah tertidur, sambil meletakkan tangan di kepalanya. Tidak perlu jumlah tertentu dan tidak perlu waktu khusus yang memberatkan. Yang lebih terasa justru ketetapannya: doa pendek yang dibaca setiap hari lebih menenangkan hati daripada wirid panjang yang dipaksakan lalu ditinggalkan karena lelah.

Doa Memohon Keturunan yang Menyejukkan Mata

Doa kedua yang layak dijadikan pegangan adalah permohonan dalam Surah Al-Furqan ayat 74: Rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata aʿyun, wajʿalnā lil-muttaqīna imāmā. Artinya kurang lebih: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Doa ini kelihatan lebih umum, tetapi justru di situ letak manfaatnya bagi ibu yang sedang cemas. Ia tidak meminta anak menjadi sosok tertentu yang kita bayangkan, melainkan meminta anak menjadi penyejuk mata dengan cara yang Allah pilihkan. Bagi hati yang sedang lelah membandingkan anaknya dengan anak orang lain, doa seperti ini pelan-pelan mengendurkan genggaman.

Ada baiknya menyertakan pula permintaan untuk diri sendiri. Mintalah kesabaran saat pagi terasa panjang, mintalah lisan yang terjaga saat kesabaran menipis, dan mintalah mata yang bisa melihat kemajuan kecil pada anak yang sering luput karena kita terlalu sibuk menunggu kemajuan besar. Doa untuk diri sendiri bukan pengalih perhatian dari doa untuk anak, sebab yang menemani anak setiap hari adalah kita.

Dan berdoalah dengan bahasa Anda sendiri. Menyebut nama anak, menyebut kejadian sore tadi, menyebut ketakutan yang belum sempat Anda ceritakan kepada siapa pun, semuanya boleh. Doa dengan bahasa ibu sering justru paling menguras air mata, dan paling meringankan setelahnya.

Doa yang Dipanjatkan di Dekat Anak Punya Kerja Kedua

Ada satu hal yang jarang dibicarakan: doa yang diperdengarkan kepada anak bekerja dua kali. Yang pertama tentu urusan langit, dan itu bukan wilayah kita. Yang kedua terjadi di dalam diri anak, karena ia mendengar bagaimana orang tuanya menyebut dirinya di hadapan Tuhan.

Anak yang mendengar ibunya berdoa semoga anak ini dimudahkan bicaranya sedang menerima pesan yang sangat berbeda dari anak yang berkali-kali mendengar ibunya berkata kepada tetangga bahwa ia memang pemalu dan susah disuruh maju. Kalimat pertama menempatkan kesulitan sebagai sesuatu yang sedang diusahakan jalan keluarnya. Kalimat kedua menempatkannya sebagai sifat yang sudah selesai dan tidak bisa diubah.

Karena itu, cobalah sesekali berdoa dengan suara pelan saat anak masih terjaga, misalnya menjelang tidur sambil mengusap punggungnya. Sebutkan namanya, sebutkan harapan yang baik tentangnya, dan tutup dengan kalimat yang menenangkan. Banyak anak mengingat kebiasaan seperti ini sampai dewasa, jauh lebih lama daripada mengingat nasihat panjang yang kita ucapkan saat kesal.

Ikhtiar yang Berjalan Beriringan dengan Doa

Setelah tangan diturunkan, ada bagian yang menjadi tugas kita. Anak menjadi lebih berani bukan karena tiba-tiba berubah sifat, melainkan karena mengumpulkan pengalaman berbicara yang berakhir dengan selamat. Setiap pengalaman kecil yang tidak berujung malu adalah satu batu bata, dan keberanian dibangun dari tumpukan batu bata itu, bukan dari satu keputusan besar.

Mulailah dari lingkaran yang paling kecil dan paling aman. Meminta anak memesan sendiri jajanan di warung sementara Anda berdiri di sampingnya, meminta ia menyampaikan salam kepada tetangga yang ramah, atau meminta ia bertanya harga kepada penjual yang sudah kenal. Semua ini pendek, jelas ujungnya, dan penontonnya tidak menghakimi. Setelah berhasil beberapa kali, barulah lingkarannya diperlebar sedikit.

Untuk urusan sekolah, yang paling menolong biasanya menyiapkan kalimat, bukan menyiapkan semangat. Bila besok ada pelajaran yang ia kuasai, bantulah ia menyusun satu kalimat pendek yang siap diucapkan, lalu latih dua kali di rumah dengan suara biasa sambil santai. Anak yang sudah memegang kalimat siap pakai jauh lebih mungkin mengangkat tangan, sebab beban menyusun kalimat mendadak di depan kelas sudah hilang.

Yang sama pentingnya adalah menahan diri untuk tidak menyelamatkannya terlalu cepat. Ketika ada orang bertanya kepada anak lalu ia terdiam, naluri kita adalah menjawabkan supaya suasana tidak canggung. Kebiasaan ini meringankan detik itu tetapi menutup pintu latihannya. Cobalah menunggu beberapa detik lebih lama sambil tetap tenang, dan bila ia tetap diam, jawablah dengan kalimat yang tidak menutup pintu, misalnya bahwa ia sedang menyiapkan jawabannya.

  • Ajak memesan sendiri di warung, Anda cukup berdiri di sebelahnya.
  • Siapkan satu kalimat siap pakai untuk pelajaran yang besok ia kuasai.
  • Tunggu beberapa detik lebih lama sebelum menjawabkan pertanyaan untuknya.
  • Rayakan langkah kecil yang nyata, bukan hanya keberhasilan besar yang jarang.
  • Baca doa pendek bersamanya menjelang tidur, dengan menyebut namanya.

Kalimat Kita Sehari-hari Juga Sejenis Doa

Orang tua zaman dulu sering mengingatkan agar berhati-hati dengan ucapan kepada anak, sebab lisan orang tua mudah diijabah. Terlepas dari bagaimana kita memaknainya, nasihat itu punya kebenaran yang bisa langsung kita lihat sehari-hari. Anak menyusun gambaran tentang dirinya sebagian besar dari cara orang dewasa terdekat menyebut dirinya.

Sebutan pemalu yang diulang di depan tamu, di grup keluarga, dan di depan gurunya lama-lama berhenti terasa sebagai keterangan dan mulai terasa sebagai kepastian. Anak yang sudah yakin dirinya pemalu tidak akan repot mencoba, sebab mencoba berarti melawan sesuatu yang sudah ditetapkan oleh orang yang ia percaya. Maka salah satu ikhtiar termurah dan paling cepat berdampak adalah berhenti memberi label itu, mulai hari ini.

Gantilah dengan kalimat yang menggambarkan keadaan sementara, bukan sifat yang menetap. Misalnya menyebut bahwa ia perlu waktu sebentar untuk merasa nyaman dengan orang baru. Kalimat ini sama sopannya untuk menjelaskan kepada tamu, tetapi meninggalkan pintu yang terbuka bagi anak.

  • Berhenti menyebut kata pemalu tentang anak di hadapannya.
  • Ganti dengan: dia perlu waktu sebentar untuk merasa nyaman.
  • Sebut kemajuan kecilnya dengan spesifik, misalnya tadi ia berani menjawab salam.

Kapan Perlu Bantuan Selain Doa dan Latihan

Doa dan ikhtiar di rumah menolong sebagian besar anak, tetapi ada keadaan yang memerlukan tangan lain, dan mencarinya sama sekali tidak mengurangi tawakal. Bila anak sama sekali tidak pernah bersuara di sekolah selama berbulan-bulan padahal di rumah ia bicara biasa, keadaan itu perlu dibicarakan dengan psikolog anak, sebab pola diam yang sangat konsisten di tempat tertentu memiliki penanganannya sendiri.

Perhatikan pula bila rasa mindernya meluas ke banyak hal sekaligus: menolak berangkat sekolah, mengeluh sakit perut hampir setiap pagi sekolah, menghindari semua kegiatan yang melibatkan orang lain, atau kehilangan minat pada hal yang dulu ia sukai. Bila ada perubahan cara bicara seperti tersendat atau kesulitan menyusun kalimat yang juga muncul di rumah, memeriksakannya lebih awal justru meringankan, karena penanganan pada usia dini biasanya lebih mudah.

Pintu pertama bisa guru bimbingan konseling di sekolah, dokter anak, atau psikolog anak. Bawalah catatan sederhana tentang sejak kapan terlihat, di tempat mana ia diam, dan di tempat mana ia bicara biasa. Menempuh jalan ini adalah bagian dari ikhtiar, persis seperti berobat ketika badan sakit, dan doa tetap berjalan beriringan di sepanjang jalannya.

Yang Bisa Dimulai Malam Ini Juga

  • Hafalkan satu doa pendek saja, lalu baca setiap malam sambil mengusap kepala anak.
  • Sebut namanya di dalam doa itu, dengan suara pelan yang bisa ia dengar.
  • Berhenti menyebut kata pemalu tentang dirinya di depan siapa pun, mulai malam ini.
  • Susun satu kalimat siap pakai bersama anak untuk pelajaran yang besok ia kuasai.
  • Rencanakan satu tugas kecil akhir pekan: memesan sendiri di warung, Anda menemani.

Bab pertamanya bisa Anda dengarkan gratis

Kalau tulisan ini terasa menggambarkan rumah Anda, bab pertama buku “Anak Berani Bicara & Percaya Diri” membahasnya lebih dalam, tentang menumbuhkan keberanian anak yang pemalu dan sulit bicara. Bab itu bisa dibaca, atau didengarkan seperti dongeng sambil menyetrika dan menemani anak tidur. Gratis, tanpa mendaftar, tanpa memasukkan email.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Doa apa yang paling baik dibaca agar anak berani dan percaya diri?

Doa Nabi Musa dalam Surah Thaha ayat 25 sampai 28 sangat dekat dengan keadaan ini karena memohon dada yang lapang, urusan yang dimudahkan, dan lisan yang dilepaskan dari kekakuan. Bisa juga dilengkapi permohonan dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Yang lebih menentukan bukan panjangnya, melainkan ketetapan membacanya setiap hari.

Kapan waktu terbaik membacakan doa untuk anak?

Tidak ada waktu yang memberatkan yang wajib dipenuhi. Banyak orang tua memilih setelah salat, atau menjelang anak tidur sambil mengusap kepalanya, karena saat itu suasananya tenang. Membaca doa di dekat anak yang masih terjaga punya nilai tambahan, sebab anak mendengar harapan baik tentang dirinya.

Apakah cukup berdoa saja tanpa melatih anak?

Dalam tradisi kita, doa selalu berpasangan dengan ikhtiar, seperti berdoa memohon kesembuhan sambil tetap berobat. Latihan kecil yang bertahap memberi anak pengalaman nyata bahwa berbicara kepada orang lain tidak berakhir buruk. Doa menenangkan hati orang tuanya, dan latihan membuka jalan bagi anaknya.

Ada satu hal yang menenangkan dari mendoakan anak. Ia mengembalikan urusan ini pada ukuran yang sebenarnya, bahwa kita memang tidak memegang kendali penuh atas siapa anak kita akan tumbuh menjadi apa, dan tidak pernah diminta memegangnya. Tugas kita menyiapkan jalannya, menemani langkahnya, lalu menitipkan sisanya kepada Yang memilikinya.

Maka bila malam ini Bunda kembali menengadahkan tangan untuk anak yang pendiam itu, ketahuilah bahwa itu bukan tanda Anda kehabisan cara. Itu tanda Anda masih berusaha, dari sisi yang paling dalam yang bisa dijangkau seorang ibu. Besok pagi, lanjutkan dengan satu langkah kecil yang bisa dikerjakan, dan biarkan keduanya berjalan beriringan.

Bacaan lanjutan


📚Pustaka Anda